KRIWIKAN DADI GROJOKAN

Featured image

WIRATA (Sanskerta: विराट ;Virāṭa), Prabu Matsyapati (ikan), berputera Raden Seta, Utara, Wiratsangka dan Dewi Utari. Adiknya DEWI RARA AMIS bertapa sebagai tukang perahu penyeberang sungai Yamuna, rela dinikahi siapapun penyembuhnya. Palasara berbelarasa tergerak hatinya untuk menyembuhkan, hilang bau amis dari tubuhnya, terpancar bau harum mewangi (Jebat Kesturi). Tenggelam dalam rasa syukur dan terimakasih Dewi Durgandini menyerahkan diri, memadu kasih dalam penyeberangan, diterjang ombak yang memecahkan perahunya. Lahir ABIYASA (hitam) dan ari-arinya berubah wujud Raden Seta (putih). Perahunya terbelah menjadi sepasang bayi kembar, Baca lebih lanjut

SAIYEG SAEKA PRAYA

Featured image

BAGAWAN KESAWASIDI perantara rahmat turunnya Wahyu MAKUTHARAMA pada HARJUNA berupa wejangan HASTABRATA (Hasta=delapan; Brata=Bakti, Bathara) watak, sifat, sikap dasar seorang Raja, Presiden, Gubernur, Bupati, Pemimpin Organisasi, Ksatria (kader) pewaris Astinapura yang dipercaya adalah wilayah NUSANTARA, Indonesia Raya (Samrad-imperium). https://nakulasahadewa.wordpress.com/2014/09/25/wahyu-sri-makutha-romo/#more-183 Baca lebih lanjut

MUSTAKAWENI

MUSTAKAWENI

DEWI MUSTAKAWENI adalah adik Prabu Bumiloka,  putera PRABU NEWATA KAWACA dari Imanimantaka, merencanakan cara membalas kematian ayahnya oleh Mintaraga=CIPTANING. Dewi Mustakaweni dibantu Resi Pujangkara merubah dirinya menjadi Gatutkaca, menemui Dewi Drupadi meminta mustika, pusaka Jamus Kalimusada diutus Puntadewa, srana pembangunan candi Saptarengga (SAPTO ARGO). Dewi Srikandi curiga, mengejar Gatutkaca palsu terjadi peperangan, dengan melepaskan pusaka Ardadedali,  Gatutkaca kembali wujud Dewi Mustakaweni, melarikan diri. Baca lebih lanjut

REBUT KIKIS TUNGGARANA

REBUT KIKIS TUNGGARANA

GATOTKACA dan BOMA NARA KASURA generasi penerus sisi kanan pewayangan tidak pernah menyatu dalam “capaian akhir”, kesempurnaan hidup. BOMA putra Prabu KRESNA dengan Dewi Pertiwi (Ibu Bumi) sehingga ia juga dikenal dengan sebutan Boma (Sanskerta: भौमासुर; Bhaumāsura), yang bermakna “anak Bumi”. Prabu Kresna sutradara Perang Bharata Yudha, dan dengan memiliki aji Pancasona BOMA merasa lebih mempunyai hak menjadi JAGO, senapati perang. Sementara GATOTKACA yang sempat menjadi JAGO para Dewa ‘pinilih lan pininta’ dipilih dan diminta sebagai senapati penentu kemenangan Pandhawa atas kerelaannya gugur terkena KUNTA JAYANDANU. Baca lebih lanjut

SABDO PANDITO RATU

SABDO PANDITO RATU

PRABU DASARATA mengucap janji pada DEWI KEKAYI mengangkat Bharata sebagai putra mahkota, mengasingkan, menggantikan Rama Legawa (Ramawijaya) menduduki tahta singgasana Ayodya dan PRABU SENTANU mengucap janji pada DEWI SETYOWATI (Durgandini) menobatkan Citranggada dan Citrawirya anak-anak Dewi Setyawati – Abhiyasa  bertahta di Astinapura menggantikan dan menempatkan Dewabrata sebagai Wasu, Brahmacari (Resi Bisma). Prabu Dasarata dan Prabu Sentanu gambaran Raja (dan juga setiap orang) yang terimbas oleh ucapan (Sabda, ucapan=Cakra) sendiri. SABDO PANDITO RATU, DATAN BISA WOLA WALI (Sabda Tama, Sabda Raja, Sabda Pandita harus dilaksanakan, terlaksana pantang ditarik kembali, apalagi ditentang – malati – kuwalat). Baca lebih lanjut

DUTANING NATA

DUTANING NATA

KRESNA, Wisnu penyelaras kehidupan di dunia tampil sebagai DUTA ketika Dewi Kunti dan Prabu Drupada gagal mengingatkan janji Kurawa mengembalikan Indraprasta dan Astina sigar semangka. Ternyata tidak cukup hanya didampingi Setyaki, Bathara Narada-Kaneka Putra, Bathara Janaka, Bathara Kanwa, dan Rama Parasu naik Kreta Jaladara mengikutinya sebagai saksi. Mereka kembali ke Kahyangan setelah Duryudana bersedia memenuhi janji Astina kembali kepada Pandhawa ketika Dewi Anggendari merajuk putranya untuk hidup rukun. https://astroboyz.wordpress.com/2014/02/09/kresna-duta-sujiwo-tejo/ Baca lebih lanjut

YOGYANIRA

YOGYANIRA

SURYAPUTRA Narpati Ngawongga dan Pandhawa tunggal ibu,  kinarya gul-agul manggala prang Bratayuda ingadegken senapati ngalaga ing Korawa. SANG KUMBAKARNA arane tur iku warna diyu suprandene gayuh utami, gugur membela negara. PATIH SUWANDA andelira sang Prabu Sasrabahu ing Maespati, lelabuhanipun kang ginelung tri prakara:  guna, kaya, purun ingkang dèn antepi  nuhoni trah utama.

Baca lebih lanjut